5 Tweets 1 reads Sep 16, 2024
Walaupun Bung Hatta tidak dipilih langsung oleh jutaan rakyat seperti Gibran Beler. Tapi Bung Hatta dan Bung Karno dipilih berdasarkan konsensus puluhan tokoh pejuang dan pemikir kemerdekaan, mas.
Perbadingan yg anda ajukan ini ahistoris, konteks 1945 itu rumit. Partai dan sistem pemilu ini kan barang baru buat kita maka konyol kalau membandingkan Bung Hatta gak dipilih rakyat. Mana lah rakyat tahun 1945 nuntut sampai sejauh itu.
Kita proklamasi merdeka aja keputusan dibuat cepat karena gak terprediksi sama founding fathers kalau fat man dan little boy bakal ngancurin Jepang, ditambah Soviet udah nunggu di Manchuria sono.
UUD 1945 aja kata Bung Karno sementara dibuat dulu untuk syarat terpenuhi mendirikan negara, kalau udah membaik baru dibikin yg bener.
Karena Belanda balik lagi ke sini 1945-1949 itu kan yg buat kita baru agak mendingan dan bikin pemilu 1955 dan pemilu daerah 1957.
Fatal ini. Diperparah narasi sejarah kita seolah Dewan Konstituante gak kerja sehingga gagal buat konstitusi. Baca risalhnya sakit banget gue mereka dibubarkan.
UUD 1945 itu terlalu sentralistik, semua kekuasaan dipegang presiden tanpa pasal mengadili presiden jika gak bener.
Dewan konstituante dalam konstitusi yg mereka bikin sudah mengatur check balance kewenangan presiden
Tahun 1959 mereka udah mengatur UU HAM yg mana kita baru punya UU HAM di tahun 1999 saat reformasi.
Ada perlindungan perempuan dan anak lebih jelas dll.
x.com
Pidato ini sedih banget kalau dibaca, gimana Pak Johannes Thomus Simorangkir ngucapin pidatonya saat itu coba. Beliau ini pakar hukum tata negara milik kita yang saat itu jadi Dewan Konstituante.
Iya betul, kondisi yg kita alami ini kan contoh nyata paradoks demokrasi seperti yg kata Plato, Carl Schmitt, Nietzsche dan Voltaire.

Loading suggestions...