9 Tweets 3 reads May 17, 2024
Ajaran Manunggaling Kawula Gusti yang diyakini Syekh Siti Jenar ditentang oleh para Walisongo.
Mati adalah hukuman yang dirasa paling pantas untuknya.
Alih-alih takut, Syekh Siti Jenar memandang kematian sebagai titik kesempurnaan manusia~
#UtasMILD #SyekhSitiJenar
Syekh Siti Jenar diyakini berasal dari Persia (Iran), lahir sekitar 1404 M.
Ia berguru kepada ayahnya, Sayyid Shalih, yang dikenal sebagai ahli tafsir kitab suci. Konon, Jenar sudah hafal Alquran sejak usia 12 tahun.
Dirunut dari silsilah, Syekh Siti Jenar dipercaya masih keturunan Nabi Muhammad dari jalur Siti Fatimah & Ali bin Abi Thalib.
Semua bermula saat Syekh Siti Jenar menghadiri sarasehan di Giri bersama dengan sejumlah wali & tokoh penting.
Syekh Siti Jenar berujar:
“Menyembah Allah dengan bersujud beserta ruku'-nya, pada dasarnya sama dengan Allah, baik yang menyembah maupun yang disembah."
"Dengan demikian, hambalah yang berkuasa, & yang menghukum pun hamba juga."
Pernyataan Syekh Siti Jenar ini sukses membuat forum riuh.
Para wali yang hadir pada saat itu mengira Syekh Siti Jenar menganggap dirinya sama dengan Tuhan.
Walisongo memperingatkannya akan dosa & hukuman mati yang menanti jika ia terlalu jauh memaknai tasawuf.
Syekh Siti Jenar dengan tenang menjawab:
"Biar jauh tapi benar, sementara yang dekat belum tentu benar”
Ketika sedang mengajar santrinya di Jepara, beberapa Walisongo datang membawa titah dari Raden Patah, Sultan Demak.
Mereka kembali membuka forum diskusi & terus mendesak Syekh Siti Jenar untuk berhenti menyebarkan ajaran Manunggaling Kawula Gusti.
“Allah adalah yang bewujud haq,” kata Sunan Gunung Jati.
“Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, wajib adanya, mustahil tidak adanya,” kata Sunan Bonang.
“Allah itu adalah seumpama (dalang) memainkan wayang,” kata Sunan Kalijaga.
Dengan tenang, Jenar membalas:
“Jika Anda menanyakan di mana rumah Tuhan, jawabnya tidaklah sulit. Allah berada pada zat yang tempatnya tidak jauh, yaitu bersemayam di dalam tubuh manusia itu sendiri"
Forum diskusi itu pun beralih fungsi menjadi persidangan.
Suara bulat memutuskan bahwa Syekh Siti Jenar harus diproses kemungkinan besar hukuman mati.
Eksekusi mati diperkirakan terjadi pada tahun 1517.
Bagi Syekh Siti Jenar, inti paling mendasar tentang syahadat & tauhid adalah manunggal (bersatu).
Artinya, seluruh ciptaan Tuhan pasti akan kembali menyatu dengan yang menciptakan, Manunggaling Kawula Gusti~
Dan kematian adalah penyatuan yang sempurna.
tirto.id

Loading suggestions...