Dalam sidang BPUPKI tanggal 11 Juli 1945, Mohammad Hatta pertama mengusulkan perbincangan soal batas teritorial Indonesia sebagai negara yang hendak lahir.
Ia meminta Indonesia tidak lebih dari wilayah bekas jajahan Belanda, bahkan ikhlas jika wilayah seperti Papua Barat menolak bergabung dengan Indonesia.
Ia meminta Indonesia tidak lebih dari wilayah bekas jajahan Belanda, bahkan ikhlas jika wilayah seperti Papua Barat menolak bergabung dengan Indonesia.
Di sisi lain, Sukarno punya gagasan sendiri.
Ia yakin Indonesia akan menjadi negara yang kuat jika seluruh penjuru Selat Malaka masuk wilayahnya.
Mohammad Yamin yang mendukung Sukarno pun, turut berpendapat bahwa Indonesia sebagai negara seharusnya dibangun atas dasar persamaan etnis, termasuk Melanesia.
Ia yakin Indonesia akan menjadi negara yang kuat jika seluruh penjuru Selat Malaka masuk wilayahnya.
Mohammad Yamin yang mendukung Sukarno pun, turut berpendapat bahwa Indonesia sebagai negara seharusnya dibangun atas dasar persamaan etnis, termasuk Melanesia.
Selain itu mengenai Papua Barat, Sukarno & Yamin meyakini wilayah tersebut wajib jadi bagian dari Indonesia.
Hal ini karena alih-alih jadi ahli waris Belanda, Sukarno & Yamin merasa Papua Barat berada dalam kuasa Indonesia sejak era kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Kerajaan yang eksis sejak 1293 hingga 1527 dijadikan pijakan masa lalu Indonesia dalam membangun masa depannya
Hal ini karena alih-alih jadi ahli waris Belanda, Sukarno & Yamin merasa Papua Barat berada dalam kuasa Indonesia sejak era kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Kerajaan yang eksis sejak 1293 hingga 1527 dijadikan pijakan masa lalu Indonesia dalam membangun masa depannya
Ketika pembahasan soal teritorial Indonesia masa depan itu ditutup dengan pemungutan suara, proposal yang menyatakan bahwa teritorial Indonesia mencakup wilayah:
Hindia Belanda, Papua Barat, North Borneo, Brunei, Sarawak, Timor Portugis, Malaya, & pulau-pulau disekitarnya terpilih sebagai pemenang dengan 39 suara.
Sementara 2 proposal lain yang menghendaki Papua Barat masuk dapat 19 suara & Malaya dapat 6 suara.
Hindia Belanda, Papua Barat, North Borneo, Brunei, Sarawak, Timor Portugis, Malaya, & pulau-pulau disekitarnya terpilih sebagai pemenang dengan 39 suara.
Sementara 2 proposal lain yang menghendaki Papua Barat masuk dapat 19 suara & Malaya dapat 6 suara.
Agus Salim kemudian jadi penengah dalam menentukan teritorial Indonesia.
Ia mengemukakan bahwa usaha menjadikan Indonesia tak hanya berwilayah bekas jajahan Belanda adalah langkah berbahaya.
Pasalnya, North Borneo, Brunei, Sarawak, Timor Portugis, Malaya, & pulau-pulau disekitarnya belum tentu setuju๐ฒ
Ia mengemukakan bahwa usaha menjadikan Indonesia tak hanya berwilayah bekas jajahan Belanda adalah langkah berbahaya.
Pasalnya, North Borneo, Brunei, Sarawak, Timor Portugis, Malaya, & pulau-pulau disekitarnya belum tentu setuju๐ฒ
Begitulah ceritanya bagaimana akhirnya Indonesia berdiri dengan teritorialnya yang sekarang.
Dibangun atas nama sejarah, "Sejarah Akal Sehat"~
tirto.id
Dibangun atas nama sejarah, "Sejarah Akal Sehat"~
tirto.id
Loading suggestions...