Setelah resmi menjabat, BJ Habibie langsung menghadapi berbagai persoalan rumit.
Salah satu tantangan terberat adalah membentuk kabinet baru, termasuk menentukan jabatan Menhankam/Panglima ABRI (Pangab).
BJ Habibie tadinya akan menunjuk Wiranto untuk tetap menjadi Menhankam/Pangab, namun tak semua pihak setuju.
Salah satu tantangan terberat adalah membentuk kabinet baru, termasuk menentukan jabatan Menhankam/Panglima ABRI (Pangab).
BJ Habibie tadinya akan menunjuk Wiranto untuk tetap menjadi Menhankam/Pangab, namun tak semua pihak setuju.
Pagi tanggal 22 Mei 1998, Wiranto menghadap Presiden BJ Habibie.
Panglima ABRI melaporkan bahwa ada gerakan pasukan (yang ditengarai sebagai pasukan Kostrad) menuju Jakarta.
Dari laporan tersebut, Habibie berkesimpulan bahwa Pangkostrad yang dipimpin oleh Prabowo bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Wiranto.
Panglima ABRI melaporkan bahwa ada gerakan pasukan (yang ditengarai sebagai pasukan Kostrad) menuju Jakarta.
Dari laporan tersebut, Habibie berkesimpulan bahwa Pangkostrad yang dipimpin oleh Prabowo bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Wiranto.
BJ Habibie berpikir bahwa ia harus segera membuat keputusan cepat.
Johny Lumintang akhirnya dilantik sebagai Pangkostrad dalam upacara serah terima jabatan yang dilangsungkan pada malam hari tanggal 22 Mei 1998.
Jabatan ini diemban Johny kurang dari sehari, karena situasi yang mendesak, Mayjen Djamari akhirnya dilantik jadi Pangkostrad pada tanggal 23 Mei pagi.
Johny Lumintang akhirnya dilantik sebagai Pangkostrad dalam upacara serah terima jabatan yang dilangsungkan pada malam hari tanggal 22 Mei 1998.
Jabatan ini diemban Johny kurang dari sehari, karena situasi yang mendesak, Mayjen Djamari akhirnya dilantik jadi Pangkostrad pada tanggal 23 Mei pagi.
Tak lama setelah dicopot dari jabatan Pangkostrad, Prabowo menemui Habibie pada 23 Mei 1998.
Dalam buku yang ditulis Habibie berjudul "Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi", seperti inilah percakapan yang terjadi saat itu:
Prabowo: "Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad!"
Habibie: "Anda tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti!"
Dalam buku yang ditulis Habibie berjudul "Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi", seperti inilah percakapan yang terjadi saat itu:
Prabowo: "Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad!"
Habibie: "Anda tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti!"
(lanjutan percakapan sebelumnya)
Prabowo: "Mengapa?"
Habibie: βSaya mendapat laporan dari Pangab bahwa gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Merdeka.β
Prabowo: "Saya bermaksud untuk mengamankan presiden"
Habibie: "Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab"
Prabowo: "Presiden apa Anda? Anda naif!"
Habibie: "Masa bodoh, saya presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara!"
Prabowo: "Atas nama ayah saya Prof. Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,"
Habibie: "Tidak. Saya bersedia mengangkat Anda jadi duta besar di mana saja"
Prabowo: "Yang saya kehendaki adalah pasukan saya!"
Prabowo: "Mengapa?"
Habibie: βSaya mendapat laporan dari Pangab bahwa gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Merdeka.β
Prabowo: "Saya bermaksud untuk mengamankan presiden"
Habibie: "Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab"
Prabowo: "Presiden apa Anda? Anda naif!"
Habibie: "Masa bodoh, saya presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara!"
Prabowo: "Atas nama ayah saya Prof. Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,"
Habibie: "Tidak. Saya bersedia mengangkat Anda jadi duta besar di mana saja"
Prabowo: "Yang saya kehendaki adalah pasukan saya!"
Usai pertemuan itu, Prabowo pulang. Presiden Habibie kemudian menempatkannya di Bandung sebagai Komandan Sekolah Staf Komando ABRI.
Tak lama, Wiranto selaku Panglima ABRI membentuk Dewan Kehormatan Perwira (DKP) untuk menyidangkan Prabowo.
Tapi keputusan DKP tentang pemberhentiaan Prabowo sampai kini masih menjadi kontroversi.
Tak lama, Wiranto selaku Panglima ABRI membentuk Dewan Kehormatan Perwira (DKP) untuk menyidangkan Prabowo.
Tapi keputusan DKP tentang pemberhentiaan Prabowo sampai kini masih menjadi kontroversi.
Belum terkuak dengan pasti apakah Presiden BJ Habibie memang menandatangani keputusan tentang pemberhentian Prabowo Subianto dari Dinas Keprajuritan ABRI dengan hormat dan memperoleh hak pensiun perwira tinggi.
Misteri ini masih menjadi teka-teki setelah berlalu cukup lama, bahkan hingga BJ Habibie wafat pada 11 September 2019.
Misteri ini masih menjadi teka-teki setelah berlalu cukup lama, bahkan hingga BJ Habibie wafat pada 11 September 2019.
Wiranto & orang-orang yang pernah bekerja dengan BJ Habibie pernah bilang bahwa ia adalah seorang presiden yang gigih menegakkan demokrasi di negeri ini.
Jika BJ Habibie melihat kekacauan Pemilu saat ini,
Kira-kira apa yang akan ia katakan?~
tirto.id
Jika BJ Habibie melihat kekacauan Pemilu saat ini,
Kira-kira apa yang akan ia katakan?~
tirto.id
Loading suggestions...