Selama Soeharto berkuasa, pemilu tetap dilaksanakan. Namun, tentu dilakukan dengan kecurangan yang terstruktur, sistematis, & masif.
Bagaimana langkah rezim ini hingga berhasil mencacatkan demokrasi?
#UtasMild #PemiluCurang
Bagaimana langkah rezim ini hingga berhasil mencacatkan demokrasi?
#UtasMild #PemiluCurang
Walhasil, Golkar menang MUTLAK. Golkar berhasil mengantongi 62% suara & mendapatkan 236 kursi di DPR.
Sedang di urutan kedua ada Partai Nahdlatul Ulama (18,6% & 58 kursi). Yang cukup mengejutkan, partai bentukan Sukarno, PNI yang menjadi pemenang pemilu 1955 hanya mendapatkan 6,9% suara & 20 kursi.
Sedang di urutan kedua ada Partai Nahdlatul Ulama (18,6% & 58 kursi). Yang cukup mengejutkan, partai bentukan Sukarno, PNI yang menjadi pemenang pemilu 1955 hanya mendapatkan 6,9% suara & 20 kursi.
Pemilu 1977.
Mempersiapkan untuk pemilu ini, empat tahun sebelumnya alias pada 1973, kebijakan penyederhanaan partai dikeluarkan.
Parpol dikelompokkan dalam dua ideologi besar: Nasionalis & Islam.
Mempersiapkan untuk pemilu ini, empat tahun sebelumnya alias pada 1973, kebijakan penyederhanaan partai dikeluarkan.
Parpol dikelompokkan dalam dua ideologi besar: Nasionalis & Islam.
Di sisi Islam, terbentuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), gabungan dari Partai NU, Parmusi, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), & Partai Islam PERTI.
Untuk Nasionalis, terbentuk Partai Demokrasi Indonesia (PDI), gabungan dari PNI, Murba, Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Parkindo, & Partai Katolik.
Untuk Nasionalis, terbentuk Partai Demokrasi Indonesia (PDI), gabungan dari PNI, Murba, Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Parkindo, & Partai Katolik.
Peleburan partai ini membuat pemilu 1977 hanya diikuti tiga peserta partai, yaitu PPP, PDI, & Golkar. Kondisi ini tentu menguntungkan bagi Golkar.
Tak sampai di situ, pemilu jadi kian tertutup. Aturan baru membuat pemilih hanya dapat memilih partai & nama calon-calon parlemen tak dicantumkan.
Tak sampai di situ, pemilu jadi kian tertutup. Aturan baru membuat pemilih hanya dapat memilih partai & nama calon-calon parlemen tak dicantumkan.
Sesuai perkiraan, Golkar menang telak dengan perolehan 62,1% suara & memperoleh 232 kursi di DPR.
Disusul dengan PPP (29,2% suara & 99 kursi) lalu PDI (8,6% suara & 29 kursi).
Disusul dengan PPP (29,2% suara & 99 kursi) lalu PDI (8,6% suara & 29 kursi).
Pemilu 1982.
Semakin terang-terangan, Orba seenaknya merombak struktur badan penyelenggara pemilu. Ketua Dewan Pertimbangan Lembaga Pemulihan Umum dijabat oleh Menteri kehakiman.
Anggotanya pun ditambah dengan memasukkan anggota personel ABRI, parpol, & Golkar.
Semakin terang-terangan, Orba seenaknya merombak struktur badan penyelenggara pemilu. Ketua Dewan Pertimbangan Lembaga Pemulihan Umum dijabat oleh Menteri kehakiman.
Anggotanya pun ditambah dengan memasukkan anggota personel ABRI, parpol, & Golkar.
Pemilu 1987.
Kontrol pemerintah dan ABRI dalam lembaga penyelenggara pemilu masih kuat. Pemerintah juga (masih) menerapkan aturan diskriminatif terhadap partai selain Golkar.
Kontrol pemerintah dan ABRI dalam lembaga penyelenggara pemilu masih kuat. Pemerintah juga (masih) menerapkan aturan diskriminatif terhadap partai selain Golkar.
Sebagai contoh, larangan pembentukan cabang partai di bawah tingkat provinsi, pengurangan masa kampanye dari 45 hari ke 25 hari, hingga pelarangan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Tak hanya sampai situ, rezim ini juga memanfaatkan para birokratnya memobilisasi dukungan terhadap Golkar.
Tak hanya sampai situ, rezim ini juga memanfaatkan para birokratnya memobilisasi dukungan terhadap Golkar.
Pemilu 1992.
Menjadi pemilu terakhir bagi kejayaan rezim Orba. Hasil yang tak disangka keluar. Suara Golkar menurun hanya jadi 68% dari pemilu sebelumnya yang mencapai 73%.
Sedangkan PDI suarannya naik jadi 14,89% (sebelumnya 10%) serta PPP memperoleh 17% (sebelumnya 15%).
Menjadi pemilu terakhir bagi kejayaan rezim Orba. Hasil yang tak disangka keluar. Suara Golkar menurun hanya jadi 68% dari pemilu sebelumnya yang mencapai 73%.
Sedangkan PDI suarannya naik jadi 14,89% (sebelumnya 10%) serta PPP memperoleh 17% (sebelumnya 15%).
Kecurangan-kecurangan sistematis ini berhasil membuat rezim Orde Baru langgeng berkuasa hingga lebih dari tiga dekade.
Sejarah telah mencatat, dan semoga, masa depan mengingat.
tirto.id
Sejarah telah mencatat, dan semoga, masa depan mengingat.
tirto.id
Loading suggestions...