Diosetta
Diosetta

@diosetta

41 Tweets 32 reads Nov 06, 2023
TUMBAL MANTEN
Part 1 - Sang Bahurekso
Dia terpilih sebagai pengantin untuk sosok tak kasat mata yang dipuja oleh warga desannya...
@ceritaht @bagihorror @bacahorror @IDN_Horor
#bacahorror
PROLOG
Suara langkah kecil seorang perempuan yang terlihat masih sangat muda terdengar mendekat ke salah satu rumah. Kala itu malam akan mencapai puncaknya.
Walau tidak sewajarnya seorang anak keluar di waktu itu,
Ia tetap melawan rasa takutnya dan melangkah dengan hati-hati ke sana.
“Mbak, sudah jangan kesini lagi. Nanti Mbak dimarahin Bapak..”
Suara anak perempuan terdengar dari salah satu jendela kayu di di rumah yang sudah reyot itu, Namun perempuan itu tidak peduli dan terus mendekat.
“Pokoknya Mbak Dinda akan cari cara buat nolong kamu. Mbak janji..” Ucapnya.
Dinda adalah nama sang kakak. Sementara Nuri sang adik yang sudah lebih dari satu minggu dikurung di sebuah rumah khusus di Desa Sandialas.
“Mbak, Nuri takut…”
Dinda hanya bisa memasukkan salah satu tanganya dari jendela mengelus kepala nuri untuk menghiburnya. Ia Pun memasukkan beberapa bungkusan kecil yang berisi singkong hangat.
“Ini dimakan, besok mbak mungkin nggak datang. Mbak akan mencoba mencari bantuan…”
“Tapi nggak mungkin ada warga desa yang mau menolong kan, Mbak? Sepertinya sudah takdir Nuri untuk jadi pengantin Ndoro Kantur..”
“Nggak akan Mbak biarkan. Tidak sepatutnya kita manusia patuh sama demit menjijikkan itu! Ini semua nggak masuk akal!”
Dinda memang lebih tegar dari adiknya. Saat penentuan pengantin dan Nuri terpilih menjadi Pengantin Ndoro Kantur, Dinda berdiri mengajukan diri menggantikan adiknya. Namun yang telah dipilih tidak bisa ditolak.
Saat ini seorang anak kecil telah didandani cantik sedemikian rupa dan dipingit di sebuah rumah yang memang dikhususkan untuk pengantin Ndoro Kantur.
“Kamu cantik banget Nuri, tapi mbak pastikan kecantikanmu itu bukan untuk makhluk itu..” Dinda dan Nuri saling menitikkan air mata meratapi takdir itu.
Srakkkk!!!
Terdengar suara sesuatu yang mendekat ke rumah itu. Dinda yang menyadarinya segera mengendap-endap dan meninggalkan adiknya itu.
Beberapa orang yang merupakan sesepuh desa mendatangi kamar Nuri untuk mengeceknya.
“Ikhlaskan dirimu, Nduk. Sebuah kebahagiaan kamu bisa terpilih dan berbakti terhadap desa..” Ucap orang itu.
Nuri tidak menjawab dan hanya terus menangis, Tapi orang itu tidak perduli. Mereka malah memasang sesaji dan beberapa benda yang ditanamkan di sekitar rumah itu.
“Ke—kemenyan?” Nuri Bingung.
“Ini hanya untuk mencegah hal yang tidak diinginkan sampai Ndoro Kantur menjemputmu.” Ucap orang-orang itu.
Tepat setelah ritual kecil penanaman benda-benda itu, mereka pun pergi. Dinda yang masih mengintip di balik semak seketika merasa hawa dingin yang sangat aneh.
Tak lama terdengar suara geraman dari sekitar rumah. Dinda melihat dengan mata kepalanya sendiri pemandangan yang tidak bisa ia lupakan.
Tiap sudut rumah itu tiba-tiba dijaga oleh sosok pocong berwajah busuk dengan kain kafan penuh darah.
Dan dari jauh, samar-samar Dinda melihat ada sosok hitam besar yang berada di kamar adiknya itu.
***
PART 1 - SANG BAHUREKSO
(Sudut pandang Bisma Sambara)
Ramainya suasana pasar tidak pernah membuatku bosan untuk menghabiskan waktu di sana. Hiruk pikuk pedagang sayuran, pengrajin anyaman,
hingga peternak yang membawa ayam yang siap dipotong membuat pasar ini tidak pernah sepi di pagi hari.
“Bisma! Nggak sekolah?” Teriak seorang ibu yang tengah menjajakan sayuran hasil kebunnya.
“Lah kan baru lulus-lulusan,Bu!” Balasku.
Itu adalah Bu Woro, salah seorang pedagang sayuran di pasar ini.
“Tolongin ibu anterin ini, bisa?” Teriaknya.
Mendengar ucapan itu aku segera beranjak dari posisi dudukku di bawah salah satu pohon dan menghampirinya. Sudah jelas ini adalah rejeki yang tidak boleh ku tolak.
“Nganter ten daleme sinten, Bu?” (Nganter ke rumahnya siapa Bu?) Tanyaku.
“Mbok Jumi sama Pak Ramli, ngerti to omahe?” (Mbok Jumi sama Pak Ramli, tahu kan rumahnya?)
“Iya, Mbok..”
Aku pun menerima beberapa ikat sayuran bersama dua buah koin senilai dua ratus rupiah.
“Matur nuwun yo ,Bu!” ucapku tersenyum menerima lembaran itu.
“Ibu sing matur nuwun, nanti kalau sudah siang ke sini lagi saja. Kalau ada sayur yang belum habis, boleh kamu bawa,” Ucap Bu Woro.
Aku pun berpamitan mencium tangan Bu Woro dan bergegas menyelesaikan apa yang ia amanahkan. Tepat saat matahari mencapai puncaknya aku pun kembali ke rumah dengan beberapa ikat sayuran.
“Dari mana saja to, Bisma? Bukannya bantuin Bapak di sawah…”
Aku sudah menduga ocehan ibu akan menyambut kepulanganku.
“Lah, Bapak nggak bilang kalau mau nyawah hari ini? ”
“Bapakmu kan emang gitu, dia nggak mau nyusahin anaknya. Tapi kamu sebagai anak kan harus sadar sendiri…”
Aku pun mendekat pada ibu dan menyerahkan beberapa ikat sayuran yang diberikan Bu Woro tadi.
“Berbakti nggak harus ikut nyawah kan Bu? Lagian ada Bimo, Kan?” Tanyaku memamerkan hasilku di pasar pagi ini.
Ibu memeriksa bawaanku yang terdapat beberapa ikat bayam dan sayuran lainnya.
“Banyak banget? Ini dari mana?”
“Bu Woro, tadi bantuin nganter sayur juga. Dikasi duit juga. Ibu kalau butuh pakai saja dulu, lumayan ada lima ratus perak…” Ucapku.
“Kamu ini bisa aja, duitnya kamu simpen aja. Sayurnya aja udah banyak banget.” Balas Ibu yang seketika ekspresinya berubah dengan apa yang kubawa.
“Jadi, Bisma ikut nyawah nggak?” Tanyaku iseng.
“Nggak usah, udah sana istirahat saja. Sering-sering aja begini..”
“Lah, jangan donk bu! Kalau aku bawa sayuran berarti kan dagangan Bu Woro nggak habis!” balasku.
“Oh iya, bener juga. Kalau ke pasar lagi sampaikan terima kasih ya. Kapan-kapan ibu bawain masakan,”
“Nggih, Bu!”
Aku pun kembali meninggalkan rumah sembari menunggu sayuran yang kubawa selesai dimasak oleh ibu.
Beberapa hari lalu aku sempat mendengar kemunculan sosok macan putih jadi-jadian di bukit perbatasan desa.
Ada sebuah makam di sana, ada yang bilang bahwa sosok itu adalah perwujudan dari roh pendamping tokoh yang dimakamkan di tempat itu.
Walaupun tuannya sudah meninggal, roh macan putih itu tetap berada di sekitar makamnya.
Rasa penasaranku membawaku mencoba untuk menelusuri hutan itu dan mencari tahu tentang keberadaan sosok yang diceritakan warga. Aku mencari petunjuk mulai dari langkah kaki, kotoran hewan, bahkan sesuatu yang berbau gaib tentang makhluk itu.
Sayangnya, walau mencari hingga matahari hampir terbenam aku tetap tidak bisa menemukan sosok macan putih itu.
Mungkin saja, sosok itu baru akan muncul saat malam hari dan itu berarti aku tidak bisa mencarinya karena pasti akan membuat Bapak dan ibu khawatir.
Langit memerah, matahari mulai malu menunjukkan cahayanya. Aku pun bergegas meninggalkan hutan dengan harapan bisa segera menikmati masakan ibu.
Tapi di tengah perjalan aku terhenti dengan keberadaan seseorang di hadapanku yang membelakangiku dengan bertingkah aneh.
Seorang wanita..
Aku menduga ia seumuran anak di awal SMA. Tapi apa yang seorang anak perempuan lakukan di mulut hutan seorang diri menjelang maghrib.
Setan? Bukan.. Aku sudah bisa membedakan sosok manusia dan makhluk halus.
“Mbak, ngapain sendirian di sini?” Tanyaku mencoba menghampiri perempuan itu.
Mendengar ucapanku, perempuan itu menoleh perlahan. Aku baru menyadari bahwa tangannya membawa sesuatu yang sedari tadi ia makan.
“Apa? Apa yang kau makan?”
Aku kaget saat menyadari anak perempuan itu memegang ayam hutan dan memakannya mentah-mentah. Mulutnya berlumuran darah dan menoleh menyeringai ke arahku.
“Khikhikhi…” Ia menertawakan reaksiku.
Perempuan ini kerasukan…
“Mbak! Sadar!!” Teriakku berusaha merebut bangkai ayam di tangannya dan menahannya untuk memakan hewan itu lagi. Sayangnya, wajah anak perempuan itu berubah kesal. Ia menatapku dengan penuh amarah.
Walau begitu anak perempuan itu masih berusaha meraih bangkai ayam yang sudah terjatuh. Aku menahannya dan anak perempuan itu meronta-ronta semakin gila.
“Setan brengsek! Keluar dari anak ini!”
Umpatku yang samar-samar mulai menyadari wujud sebenarnya dari sosok yang merasuki anak perempuan itu.
Anak itu mengamuk, mencakar, menggigit dan mencari cara untuk lepas dariku. Saat itu aku hanya bisa memikirkan doa-doa yang kuhafal yang kubacakan di dekat telinganya.
Senja mencapai puncaknya, Anak itu berteriak dengan keras tepat ketika Adzan maghrib berkumandang. Teriakannya seolah memecah keheningan senja yang terasa mengerikan itu. anak itu terkulai lemas dan terjatuh.
“Mbak!! Mbak!!” Teriakku mencoba menyadarkan dirinya.
Sepanjang adzan berkumandang aku berusaha membangunkannya, dan beruntung sebelum langit semakin gelap, anak itu pun tersadar.
“I–ini dimana?”
Jelas anak itu tidak sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya.
“Mbak, kita pergi dulu dari hutan ini.. sudah mau gelap!” ajakku.
Anak perempuan itu menurut. Aku pun membantunya berdiri dan mengajaknya untuk segera keluar dari hutan.
Tepat saat meninggalkan mulut hutan aku merasakan ada yang memperhatikan kami dari belakang. perasaan yang amat sangat membuatku cemas.
Aku pun menoleh dan mendapati sisa langit merah menerangi sosok menyerupai pocong, namun ia tidak terbungkus dengan kafan melainkan dengan kain jarik.
Ia meringkuk dan terus memakan sisa bangkai ayam yang dimakan oleh anak perempuan tadi.
***

Loading suggestions...