PERISTIRAHATAN TERAKHIR
-THREAD-
Kenapa jiwa kakak ga ikut dengan kita kak?
Izin Tag Terima kasih RT/Likes
@IDN_Horor
@bacahorror
@Penikmathorror
@threadhororr
@menghorror
@bagihorror
@creepylogy_
@diosetta
@siskanoviw
@ceritaht
@P_C_HORROR
@autojerit
#bacahorror
-THREAD-
Kenapa jiwa kakak ga ikut dengan kita kak?
Izin Tag Terima kasih RT/Likes
@IDN_Horor
@bacahorror
@Penikmathorror
@threadhororr
@menghorror
@bagihorror
@creepylogy_
@diosetta
@siskanoviw
@ceritaht
@P_C_HORROR
@autojerit
#bacahorror
Sebuah cerita pendek untuk menemani hari kamis dan malam jumat ini.
di bantu untuk RT, QRT dan sebarkan ya
Terima kasih.
di bantu untuk RT, QRT dan sebarkan ya
Terima kasih.
“Kak Raka!”
“Kakkk, Kakak Raka!”
“Bangunn kakkk!”
Aku yang masih memejamkan mata tiba-tiba mendengar sebuah suara yang entah darimana datangnya, sebuah suara yang tampak tidak asing di telingaku.
Bersamaan dengan tubuhku yang sedang diguncang-guncangkan oleh sesuatu.
“Kakkk, Kakak Raka!”
“Bangunn kakkk!”
Aku yang masih memejamkan mata tiba-tiba mendengar sebuah suara yang entah darimana datangnya, sebuah suara yang tampak tidak asing di telingaku.
Bersamaan dengan tubuhku yang sedang diguncang-guncangkan oleh sesuatu.
“Kak!”
“Kak Raka, ayo makan malam dulu Kak!”
“Bapak udah nyiapin makan malam untuk kita.”
Tidurku yang terganggu akan hal itu akhirnya membuka mataku, meskipun masih mengantuk, namun aku berusaha membuka mataku untuk mengetahui siapa yang membangunkanku pada saat itu.
“Kak Raka, ayo makan malam dulu Kak!”
“Bapak udah nyiapin makan malam untuk kita.”
Tidurku yang terganggu akan hal itu akhirnya membuka mataku, meskipun masih mengantuk, namun aku berusaha membuka mataku untuk mengetahui siapa yang membangunkanku pada saat itu.
Terlihat, seorang anak gadis yang masih belia kini berada tepat di dekat ku.
Dia adalah Nina, adikku yang masih SMP.
Dengan tersenyum kecil, dia terus mengguncang-guncangkan tubuh ku dan menyuruhku ikut makan malam bersama dirinya dan bapak yang sudah menunggu di ruang tengah.
Dia adalah Nina, adikku yang masih SMP.
Dengan tersenyum kecil, dia terus mengguncang-guncangkan tubuh ku dan menyuruhku ikut makan malam bersama dirinya dan bapak yang sudah menunggu di ruang tengah.
“Hmmmm, Iya, iya Na, kamu duluan aja kesana ya, nanti aku menyusul ke meja makan!” kataku yang masih pusing karena dibangunkan oleh adikku sendiri.
Nina hanya tersenyum kepadaku, dia tidak menjawab atas perkataan yang aku lontarkan kepadanya.
Nina hanya tersenyum kepadaku, dia tidak menjawab atas perkataan yang aku lontarkan kepadanya.
Dia hanya mengangguk dan berlari ke arah pintu kamar dan menghilang seketika ketika dirinya sudah keluar kamar.
Aku yang awalnya duduk di atas kasur kini berdiri dan berjalan keluar dari dalam kamarku. Kamar yang sudah aku tempati dari aku kecil hingga sekarang, sebuah kamar yang terletak paling ujung di rumah ini.
Tak lama setelah aku berjalan, aku melihat sebuah meja makan kecil di ruangan tengah, bersamaan dengan makanan-makanan yang ada di meja. Makanan-makanan itu terlihat sangat menggugah selera.
Di salah satu kursi di meja tersebut terlihat seseorang yang sedang duduk dengan kacamata baca dan koran pagi yang belum sempat dia baca, dia terlihat sangat serius membaca koran tersebut.
Terlihat pula dari depan sebuah berita mencengangkan, yang menceritakan tentang sebuah Kebakaran hebat sehingga menjadi headline di berita pada saat itu.
Sedangkan di sebelahnya, ada Nina yang sibuk dengan HP yang dia pegang, dia terlihat sangat serius mendengarkan sesuatu dengan kedua headset yang dia tempelkan di telinganya.
“Eh Raka, ayo duduk!” katanya sambil mempersilahkan aku untuk duduk diatas kursi yang ada di sebelahnya. Dia melambai tangannya seperti menyuruhku untuk duduk bersamanya pada saat itu.
“Kamu itu kalau tidur jangan terlalu sore, jadi kan ketika makan malam harus di bangunin seperti ini.”
“Ya sudah, ayo makan, Bapak udah masakin makanan buat kalian nih.”
“Raka, Nina ayo makan!” Katanya sambil mempersilahkan untuk makan kepadaku dan Nina pada saat itu.
“Ya sudah, ayo makan, Bapak udah masakin makanan buat kalian nih.”
“Raka, Nina ayo makan!” Katanya sambil mempersilahkan untuk makan kepadaku dan Nina pada saat itu.
“Iya Pak!” Aku dan Nina serentak menjawab.
Akhirnya kita bertiga makan malam bersama, sebuah tradisi yang selalu dilakukan oleh masyarakat kalangan menengah ke atas pada saat itu.
Akhirnya kita bertiga makan malam bersama, sebuah tradisi yang selalu dilakukan oleh masyarakat kalangan menengah ke atas pada saat itu.
Makan bersama dalam satu meja sambil membicarakan hal-hal yang sudah terjadi di hari itu, sebuah kebersamaan yang bisa mengikat mereka agar menjadi lebih erat untuk sebuah keluarga.
“Oh Iya, kalau sudah beres makan, tolong buangin sampah-sampah yang ada di bawah wastafel ya, soalnya besok tukang sampahnya mau datanga, bersamaan dengan sampah-sampah para penghuni kontrakan yang ada di depan,” Kata Bapak sambil menunjuk sampah yang sedikit menumpuk di dapur.
Aku hanya mengangguk, dan tak lama setelah aku makan dan membereskan semua piring dan gelas kotor yang ada di meja makan, aku mengambil sampah yang ada disana untuk aku buang keluar.
Rumahku memang sedikit agak unik. Karena selain ada rumahku, ada juga dua bangunan lain yang disulap menjadi sebuah kontrakan yang memanjang dan saling berhadapan satu sama lain di depan rumahku.
Kontrakan itu sengaja dibangun oleh kedua orang tua ku untuk bekal masa depanku dan Nina, Bapak berencana membagi kontrakan dengan total sepuluh pintu itu ketika dirinya sudah meninggal kelak.
Sehingga, apabila Aku dan Nina berdua tidak bekerja pun, aku masih bisa mempunyai penghasilan dari para penghuni kontrakan yang mengontrak disana.
Bapak dan Almarhum Ibu memang terkenal akan kerja kerasnya, Ibu ketika dulu masih hidup, beliau berusaha keras untuk menyekolahkan aku dan Nina hingga akhirnya harus meregang nyawa karena penyakit yang dideritanya.
Sedangkan Bapak yang merupakan chef di hotel berbintang kini memilih untuk membangun dua kontrakan ini agar dia bisa lebih banyak menyempatkan waktu bersama kedua anaknya.
Haahhhhh
“Dari kecil ampe sekarang paling males kalau buang sampah malem-malem gini,” kataku sambil sedikit menggerutu ketika aku harus membuang sampah.
“Dari kecil ampe sekarang paling males kalau buang sampah malem-malem gini,” kataku sambil sedikit menggerutu ketika aku harus membuang sampah.
Aku yang sering menghabiskan diri di dalam kamar dan larut akan buku-buku pengetahuan yang sering aku baca, merasa malas apabila harus berinteraksi dengan dunia luar.
Loading suggestions...