AKIBAT MENGHINA PATUNG HANOMAN
Part 1
Ijin tag & tolong bantu RT ya kakak
@bacahorror @IDN_Horor @autojerit @diosetta @rabumisteri @Long77785509 @benbela @penikmathorror @bagihorror @creepylogy_ @balakarsa @RestuPa71830152 @mwv_mystic
#bacahorror #ceritahorror #threadhorror
Part 1
Ijin tag & tolong bantu RT ya kakak
@bacahorror @IDN_Horor @autojerit @diosetta @rabumisteri @Long77785509 @benbela @penikmathorror @bagihorror @creepylogy_ @balakarsa @RestuPa71830152 @mwv_mystic
#bacahorror #ceritahorror #threadhorror
Alhamdulillah setelah beberapa minggu rehat akhirnya bisa nulis cerita horor lagi. Kali ini bertema pendakian
Sebelum mulai, jangan lupa ramaikan dengan RT / like / komen. Yang belum follow, segera follow dulu supaya tidak tertinggal update cerita terbaru
Sebelum mulai, jangan lupa ramaikan dengan RT / like / komen. Yang belum follow, segera follow dulu supaya tidak tertinggal update cerita terbaru
Yang mau kasih apresiasi berupa dukungan bisa unlock di @karyakarsa_id yaa. Sudah sampai part 4 di sana. Terima kasiih..
karyakarsa.com
karyakarsa.com
Prolog
Tidak pernah terbayangkan sedikitpun aku akan mengalami semua kejadian ini. Nyawa keempat temanku akhirnya melayang dengan cara mengenaskan, menyisakan aku sendiri yang harus menjalani sisa umurku dengan penuh rasa bersalah.
Tidak pernah terbayangkan sedikitpun aku akan mengalami semua kejadian ini. Nyawa keempat temanku akhirnya melayang dengan cara mengenaskan, menyisakan aku sendiri yang harus menjalani sisa umurku dengan penuh rasa bersalah.
Meski tidak ada bukti nyata bahwa kejadian itulah penyebabnya, tapi semua rentetan peristiwa sejak kejadian itu hingga meninggalnya temanku satu persatu membuatku -
yakin bahwa semuanya terjadi akibat kesalahan kami sendiri yang dengan sengaja menghina patung hanoman yang kami temui di pinggir hutan itu.
Sebelumnya perkenalkan namaku Heri (samaran). Aku seorang karyawan perusahaan swasta yang cukup besar di kotaku. Kehidupanku saat ini berjalan normal dengan aktifitas sehari-hari bekerja lalu pulang di sore hari.
Aku sudah berkeluarga dengan dua orang anak. Anakku yang sulung kini sudah mulai menginjak remaja dan baru masuk ke Sekolah Menengah Atas. Sedangkan anak yang kedua masih duduk di Sekolah Dasar.
Tapi di balik kehidupanku yang terlihat seolah normal dan sempurna itu, aku masih terus dihantui rasa takut dan bersalah akibat kejadian di masa lalu, tepatnya ketika aku masih duduk di Sekolah Menengah Atas.
Sebuah kejadian yang bermula dari keisengan kami ketika mendaki gunung lalu tidak sengaja menemukan sebuah patung yang berbentuk kera.
Kami dengan sengaja merusak dan menghina patung itu hingga akhirnya kami mengalami kejadian teror secara terus menerus dan berakhir dengan meninggalnya teman-temanku. Bahkan hingga saat ini aku masih kerap disambangi makhluk yang meneror itu untuk memberikan peringatan.
Selama hampir tiga puluh tahun sejak kejadian itu, aku tidak pernah sekalipun menceritakan apa yang kualami ini kepada siapapun.
Bahkan keluarga dari teman-temanku tidak ada yang mengetahui jika mereka meninggal akibat dari kenakalan kami yang dengan ceroboh mengusik makhluk penunggu patung itu.
Di kesempatan kali ini aku mencoba memberanikan diri bercerita, supaya apa yang telah kualami di masa lalu bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
***
***
Part 1
Rencana Pendakian
Desember 1993
Penat yang menyergap perlahan melesap usai aku mengerjakan soal terakhir ujian akhir semester. Anganku mulai melayang membayangkan keseruan bertualang di alam bebas bersama teman-temanku untuk mengisi waktu liburan.
Rencana Pendakian
Desember 1993
Penat yang menyergap perlahan melesap usai aku mengerjakan soal terakhir ujian akhir semester. Anganku mulai melayang membayangkan keseruan bertualang di alam bebas bersama teman-temanku untuk mengisi waktu liburan.
Sebuah gunung yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalku akan menjadi tujuan petualangan kami.
“Jadinya kita berangkat kapan?” tanya Yusril ketika kami sedang berjalan kaki sepulang sekolah.
“Jadinya kita berangkat kapan?” tanya Yusril ketika kami sedang berjalan kaki sepulang sekolah.
“Rencananya lusa” jawabku.
“Siapa aja yang ikut?”
“Aku, Dani, Hasan, Rendi, Dimas dan kamu. Enam orang.”
“Katanya Rendi masih belum pasti?"
“Siapa aja yang ikut?”
“Aku, Dani, Hasan, Rendi, Dimas dan kamu. Enam orang.”
“Katanya Rendi masih belum pasti?"
“Memang belum pasti. Dia masih nyoba minta ijin bapaknya. Soalnya kita berangkat pas masih class meeting, jadi bapaknya agak susah ngasih ijin.”
“Yaudah seadanya aja. Kalau Sigit sih sudah dipastikan ga dapat ijin, jadi ga usah dipaksa. Nanti tunggu gimana Rendi aja.”
“Yaudah seadanya aja. Kalau Sigit sih sudah dipastikan ga dapat ijin, jadi ga usah dipaksa. Nanti tunggu gimana Rendi aja.”
Sesampainya di rumah, kami langsung mempersiapkan perlengkapan yang hendak kami bawa. Sebagian besar perlengkapan memang di simpan di rumahku yang dijadikan basecamp.
Jadi, setiap kali kami hendak pergi mendaki gunung selalu melakukan pengecekan alat dan persiapan di sini. Tak lama berselang Dimas, Hasan, Rendi dan Dani menyusul kesini.
“Gimana, Ren? Jadi ikut?” tanyaku.
“Sepertinya agak susah, Her. Bapakku kayaknya ga ngijinin soalnya kan masih masuk sekolah itu. Kalau pas liburan semester nanti ya malah dibolehin” jawabnya sedikit lesu.
“Sepertinya agak susah, Her. Bapakku kayaknya ga ngijinin soalnya kan masih masuk sekolah itu. Kalau pas liburan semester nanti ya malah dibolehin” jawabnya sedikit lesu.
“Masalahnya kalau pas liburan nanti malah kita pada ga bisa karena udah banyak acara sendiri-sendiri” ucapku.
“Iya aku tahu itu. Ga masalah sih. Kalian jalan aja berlima” ucapnya.
Akhirnya kami memutuskan tetap pergi mendaki gunung berlima lusa nanti.
***
“Iya aku tahu itu. Ga masalah sih. Kalian jalan aja berlima” ucapnya.
Akhirnya kami memutuskan tetap pergi mendaki gunung berlima lusa nanti.
***
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Senin pagi kami berlima sudah bersiap di teminal bus kota kami untuk menunggu angkutan yang akan membawa kami menuju ke basecamp gunung yang akan kami daki.
Tapi diantara keseruan kami bercanda di sela-sela waktu menunggu, aku sempat melihat raut gelisah dari wajah Yusril.
“Kenapa, Yus?” tanyaku.
"Aku kepikiran Rendi, Her" jawabnya.
“Kenapa, Yus?” tanyaku.
"Aku kepikiran Rendi, Her" jawabnya.
“Rendi kenapa emangnya? Udahlah lagian dia kan udah bilang sendiri ga masalah kita berangkat berlima” sahut Hasan.
“Bukan masalah itu. Semalam dia sempat ke rumahku. Dia bilang sebaiknya kita batalkan atau tunda pendakian ini. Karena dia ada firasat tidak enak” ucap Yusril.
“Bukan masalah itu. Semalam dia sempat ke rumahku. Dia bilang sebaiknya kita batalkan atau tunda pendakian ini. Karena dia ada firasat tidak enak” ucap Yusril.
“Halaaaah. Paling gara-gara dia ga bisa ikut, jadinya minta kita batalin aja” ucap Dani sinis.
Yusril pun terdiam. Dia seperti ada beban pikiran. Entah apa saja yang diucapkan Rendi, tapi sepertinya hal itu cukup mempengaruhinya.
Yusril pun terdiam. Dia seperti ada beban pikiran. Entah apa saja yang diucapkan Rendi, tapi sepertinya hal itu cukup mempengaruhinya.
“Kalau kamu ragu, ga usah ikut tidak apa-apa, Yus” ucapku pelan.
“Tidak, Her. Aku akan tetap ikut” sahutnya.
“Tidak, Her. Aku akan tetap ikut” sahutnya.
“Kalau memang kamu mau tetap ikut jangan seperti itu. Aku ga tau apa yang dikatakan Rendi, tapi sebaiknya abaikan saja. Lagi pula apaan sih maksudnya ngelarang-larang. Kalau ga bisa ikut ya udah mendingan diem” Dimas yang sedari tadi diam kini angkat bicara.
Yusril pun menghela napas lalu kembali tersenyum. Dia mengambil sebatang rokok lalu membakarnya. Kulihat dia berusaha tenang dengan ikut menanggapi candaan kami, meski sedikit guratan gelisah dari wajahnya tetap tak mampu ditutupinya.
Tak berselang lama bus yang kami tunggu pun datang juga. Kami segera naik dan menata barang-barang kami lalu duduk di tempat yang masih kosong. Perjalanan menuju basecamp kami tempuh dengan lancar tanpa halangan berarti. Hingga menjelang siang akhirnya kami pun sampai.
Usai melapor ke petugas basecamp dan istirahat sejenak untuk makan siang, kami pun langsung memulai perjalanan pendakian ini. Gunung ini tidak terlalu tinggi dan jalur pendakiannya juga tidak terlalu panjang.
Paling lama lima jam biasanya sudah sampai di puncak. Kami sengaja langsung memulai pendakian karena berniat bermalam di puncak dengan menggunakan tenda.
Awal perjalanan kami harus melewati beberapa candi yang biasanya menjadi destinasi wisata umum. Hari ini tidak terlalu banyak pengunjung, mungkin karena masih hari kerja.
Canda tawa khas remaja mengiringi setiap langkah kami. Meski terkadang kata-kata yang terucap terasa tidak pantas didengarkan, tapi kami seolah tidak peduli.
Bagi kami hal seperti itu biasa saja, sebab sudah menjadi kebiasaan jika kami berkumpul kata-kata kotor selalu menghiasai percakapan kami.
Yang terpenting kami tidak mengucapkannya kepada orang yang lebih tua atau kepada orang yang tidak terlalu kami kenal. Tapi tanpa kami sadari, ucapan-ucapan minim kontrol tersebut akan menjadi awal malapetaka yang kami alami nantinya.
Di tengah kawasan candi, seharusnya kami memotong jalan ke kanan untuk menuju ke jalur pendakian. Tapi karena merasa waktu yang kami miliki masih panjang dan tidak ada kepentingan khusus untuk segera sampai di puncak, -
maka kami memutuskan untuk menelusuri seluruh kawasan candi ini dulu. Hingga pada akhirnya kami sampai di bagian candi yang paling belakang.
Tidak jauh dari candi itu ada sebuah kawah kecil yang selalu mengepulkan asap solfatara. Kami mengamati beberapa saat kawasan kawah itu lalu kembali beranjak untuk melanjutkan perjalanan. Tapi sebelum kami meninggalkan tempat itu, tdk sengaja Dani menemukan sebuah jalan setapak.
“Kita coba lewat jalur ini yuk” ajaknya.
“Emang tembus mana? Kamu tahu?” tanyaku.
“Ngga tahu sih. Tapi kenapa ga dicoba aja. Siapa tahu ada tembusannya ke jalur pendakian. Daripada turun lagi lalu muter jauh banget” jawabnya.
“Emang tembus mana? Kamu tahu?” tanyaku.
“Ngga tahu sih. Tapi kenapa ga dicoba aja. Siapa tahu ada tembusannya ke jalur pendakian. Daripada turun lagi lalu muter jauh banget” jawabnya.
“Eh itu di depan ada orang. Tanya aja” sahut Yusril yang melihat seseorang berdiri tidak jauh dari tempat kami.
“Permisi, pak” ucapku ketika sampai di dekat seseorang itu.
“Iya, mas. Ada yang bisa saya bantu?” ucapnya ramah, khas warga desa kaki gunung.
“Permisi, pak” ucapku ketika sampai di dekat seseorang itu.
“Iya, mas. Ada yang bisa saya bantu?” ucapnya ramah, khas warga desa kaki gunung.
“Jalan ini apa bisa sampai di puncak, pak?”
Orang itu memandangku lekat sebelum menjawab, “bisa, mas. Tapi sebaiknya jangan lewat sini.”
“Memangnya kenapa, pak?” sahut Dani yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.
Orang itu memandangku lekat sebelum menjawab, “bisa, mas. Tapi sebaiknya jangan lewat sini.”
“Memangnya kenapa, pak?” sahut Dani yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.
“Jalan ini bisa sampai puncak, malah lebih dekat. Tapi ada penjaganya. Kalau kalian tidak bisa menjaga sikap, resikonya bisa fatal” jawabnya dengan nada sangat serius.
“Dimana-mana juga pasti ada penjaganya, pak. Yang penting kan kami gak ganggu. Ngapain takut” ucap Dani.
“Dimana-mana juga pasti ada penjaganya, pak. Yang penting kan kami gak ganggu. Ngapain takut” ucap Dani.
Aku sempat terkejut usai mendengar ucapan Dani. Bukan masalah apa-apa, aku pun tahu jika kita tidak berniat buruk apalagi mengganggu, pasti penunggu suatu tempat juga tidak akan mengganggu kita. Tapi perkataan dan nada bicaranya kurasakan seperti kurang enak didengar.
Bapak itu lantas tersenyum dan kembali berucap, “silahkan jika kalian ingin melewati jalan ini. Pesan saya berhati-hatilah, jaga sikap dan ucapan kalian. Terutama jika nanti bertemu dengan patung hanoman.”
“Baik, pak. Terima kasih informasinya” ucap Dani lalu segera meninggalkan kami, ketiga temanku yang lain pun mengikutinya, menyisakan aku sendiri yang masih berdiri di hadapan bapak itu.
“Maafkan ucapan teman saya, pak. Dia memang suka ceplas-ceplos kalau bicara. Maklum anak muda” ucapku kepada bapak itu.
“Tidak apa-apa, nak. Kamu orang baik, Tuhan pasti akan melindungimu. Jagalah teman-temanmu” ucap bapak itu sembari tersenyum.
Aku pun lantas berpamitan kepada bapak itu. Tak lupa kusalami dan kucium punggung tangannya sebagai ungkapan rasa sopan sekaligus permintaan maaf atas ucapan Dani tadi.
Aku mempercepat langkahku menyusul keempat temanku yang sudah lebih dulu menyusuri jalan setapak ini sesuai petunjuk dari warga tadi. Tak berapa lama mereka terlihat sedang duduk di bawah sebuah pohon besar.
“Lama bener kayak lagi temu kangen aja” ucap Dani ketika aku sampai.
“Mungkin Heri kepingin jadi warga sini. Jadi belajar dulu sama bapak tadi. Hahahaha” sahut Yusril.
“Mungkin Heri kepingin jadi warga sini. Jadi belajar dulu sama bapak tadi. Hahahaha” sahut Yusril.
Gelak tawa pun pecah usai Yusril berkata seperti itu. sedangkan aku hanya terdiam. Memang apa salahnya menjadi warga desa kaki gunung? Lagi pula suasana di sini enak, sejuk dan tentunya damai.
“Memangnya kenapa kalau jadi warga sini? Tempatnya enak gini kok” ucapku usai tawa mereka mereda.
“Kalo aku sih ogah. Jauh dari mana-mana. Gunung mah enaknya buat tempat main aja. Tempat petualangan kayak gini” ucap Hasan.
“Kalo aku sih ogah. Jauh dari mana-mana. Gunung mah enaknya buat tempat main aja. Tempat petualangan kayak gini” ucap Hasan.
“Nah itu aku juga setuju. Kalau buat tempat tinggal sih mendingan tetap di kota” sahut Dani.
“Udah-udah, biarin kalau si Heri kepengen hidup di desa. Tiap orang pasti punya kriteria sendiri mau nyaman tinggal dimana” ucap Dimas menengahi.
“Udah-udah, biarin kalau si Heri kepengen hidup di desa. Tiap orang pasti punya kriteria sendiri mau nyaman tinggal dimana” ucap Dimas menengahi.
“Mau langsung lanjut apa istirahat dulu, Her?” tanya Yusril.
“Lanjut aja lah. Baru jalan bentaran, belum capek juga. Kalian berhenti tadi cuma buat nunggu aku kan?”
“Ya udah yuk jalan.”
“Lanjut aja lah. Baru jalan bentaran, belum capek juga. Kalian berhenti tadi cuma buat nunggu aku kan?”
“Ya udah yuk jalan.”
Mereka semua pun beranjak dari tempat duduk masing-masing. Kami segera melanjutkan perjalanan menyusuri hutan pinus menuju ke arah yang ditunjukkan bapak-bapak tadi.
Menurut penuturan beliau, nanti kami akan bertemu dengan persimpangan. Untuk menuju ke puncak kami harus tetap lurus, sedangkan jalan yang berbelok adalah lokasi patung hanoman yang dikatakan bapak tadi.
Bersambung...
Bersambung...
Part 1 selesai sampai di sini yaa.. Sampai jumpa hari senin untuk part selanjutnya.
Yang tidak sabar mau baca lanjutannya, sudah tersedia di @karyakarsa_id sampai part 4.
karyakarsa.com
Yang tidak sabar mau baca lanjutannya, sudah tersedia di @karyakarsa_id sampai part 4.
karyakarsa.com
Loading suggestions...