14 Tweets 4 reads Jul 11, 2023
MEMAHAMI PEMIKIRAN TERORIS
Nemu sebuah postingan, saya yakin si pemosting adalah fans ISIS.
Postingan ini menarik. Selain krn saya lagi gabut, juga krn sangat mencerminkan bgmn mereka merespon informasi. Dan juga bgmn pola pikirnya terbentuk.
Sila bantu retwit jika berkenan,
Maaf, bikin kopi dulu 😅
Lanjut ya...
Sy tdk akan bahas panjang soal klaimnya bhw Rasulullah melakukan kekejian sprti yg ia tuduhkan.
Sependek yg sy tau, terkait angka 600 Bani Quraizhah yg ia klaim, dlm Shahih Bukhari dan Muslim tidak ada penyebutan angka.
Yg ada adl keputusan Sa’ad bin Muadz bhw "muqatilah (kombatan) dibunuh, sementara wanita dan anak-anak ditawan"
Angka 600 itu memang tidak muncul begitu saja, mungkin ia mengambil dr Shirah Ibnu Hisyam.
Problemnya, banyak yg berpendpt Inbu Hisyam menyebut perkiraan angka begitu saja/tanpa sanad.
Sumber lain, kitab al-Amwal karya Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam dan al-Amwal karya Humaid bin Zanjuyah (Zanjawaih) menyebutkan 40 saja.
jika pun benar mengutip Ibnu Hisyam, Ibnu Hisyam sendiri menyebutkan orang-orang yang akan dibunuh itu sempat dibawa ke Madinah, ditahan di dalam rumah Bintu al-Harits, wanita dari suku Najjar.
Apa muat 600 orang?
Tapi itulah, betapa sembrono teroris memilah/memfilter informasi
Kita bisa sj bersebat soal jumlah, dan mungkin tak akan pernah ada konsensus. Tapi sdhlah, sy jg bukan ahli riwayat.
Sy lbh tertarik membahas pola kepribadian mereka yg pd akhirnya terjerumus menjadi teroris/simpatisan teroris.
Dari sekian banyak aspek kepribadian pelaku teror yg dianalisa oleh Emile Bruneau, Ph.D, dlm 'Understanding the Terrorist Mind'
ada 2 hal yg bagi saya menarik krn sangat terkait dg postingan tsb.
Yg pertama, Emile Bruneau menyebutnya sbg 'The Brain on Violence'.
Otak kekerasan.
Otak kita dibentuk dg potensi untuk peduli, tetapi juga kemampuan untuk membunuh. Pada seorang teroris, ambivalensi yg mendalam ini berpotensi bermasalah.
Kita lihat bagaimana misalnya si pemosting, dr sekian banyak shirah dan teladan nabi, ia justru lebih tertarik pd kisah kekerasan.
Memang secara manusiawi, seseorang memiliki dorongab untuk mencintai in-group dan berhati-hati pada out-group.
Pada teroris, dorongan mewaspadai pd out-group ini menjelma sedemikian ekstrim hingga menjadi kebencian.
Bahkan mampu membunuh krn gagal mengendalikan hasrat yg ekstrim pada perilaku kekerasan.
Yg kedua, aspek empati.
Dlm wawancara dan penelitian eksperimental yg dilakukan Emile Bruneau pd pelaku aksi bunuh diri dan keluarganya,
ditemukan bhw hanya ada sangat sedikit kemauan untuk membantu kelompok luar dan jauh lbh banyak dorongan untuk menyakiti.
Oleh sebab itu, Emile menyebut 'perbedaan empati', bukan 'kapasitas empati', yg paling tepat unt memprediksi motivasi kekerasan antar kelompok.
Krn dlm kasus terorisme, bukan berarti teroris tdk punya empati, namun empati yg ia miliki hanya unt mereka yg sepemikiran, seideologi
Yg juga menarik, dlm terorisme aspek empati dianggap memiliki peran ganda.
Semakin besar tarikan empati dalam kelompok untuk merugikan kelompok luar, maka semakin lemah tarikan dari empati luar kelompok untuk mencegah perilaku agresi/kekerasan.
Jadi menurut Emile Bruneau, jika kita mulai menyukai kekerasan, mulai menganggap kekerasan hanya satu2nya jalan (jihad), dan mulai memupuk kebencian terhadap siapapun yg tdk sepemahaman dg kita. Maka kita mungkin perlu mulai instrospeksi.
Kurang lbh demikian. Lanjut ngopi ☕
~

Loading suggestions...