JeroPoint
JeroPoint

@JeroPoint

2 Tweets 178 reads May 21, 2023
'Mereka' ada di mana-mana.
JIN KHODAM
A Thread
Ada sebuah kiriman cerita cukup panjang.
Jadi kalian bisa markah, tandai, atau RT/like cerita ini untuk disimpan,
bacalah kala senggang.
Kertak-kertuk suara roda kereta kuda memecah keheningan desa. Kini andong melewati gapura yang terpampang kata-kata sambutan, β€œSELAMAT DATANG DI DESA TANGKAL PAEH".
Tangkal Paeh artinya adalah "Pohon Mati". Akhirnya, setelah sekian lama, Bagas pulang ke kampung halaman yang sangat ia rindukan.
Bagas menikmati pemandangan desa yang begitu asri. Desanya masih tidak tersentuh kegaduhan kota besar. Namun, ketika ia baru saja masuk sedikit ke desa, dia disuguhkan oleh pemandangan tak lazim.
Terdapat banyak sesajen di dekat bebatuan besar, bawah pohon raksasa, dan tugu masuk. Bahkan banyak kemenyan atau pedupaan masih mengepulkan asap.
Bagas sangat prihatin atas kondisi desanya yang berubah drastis. Padahal, ketika Bagas terakhir kali meninggalkan kampung untuk mondok, tidak ada ritual-ritual yang dibiarkan merajalela seperti itu.
Ketika delman menyelusuri pepohonan dan bebatuan, perasaan Bagas tak enak. Aura mencekam sangat terasa. Ditambah atmosfer mistis, seram, bercampur aduk.
Tidak ada ketenangan yang tersisa.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Delman membawa Bagas melintasi jembatan penghubung sungai. Sesaat rasa herannya teralih ketika disajikan pemandangan sungai yang bersih.
Namun, alis Bagas mengerut saat tak sengaja menangkap sesosok pria tua berumur sekitar enam puluh tahun yang berdiri mematung di tepi jembatan
Kakek misterius itu tersenyum aneh pada Bagas.
Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya kurus.
Apakah kakek itu sakit?
Bagas sulit mendeskripsikan arti senyumannya.
Andong melewati kakek itu begitu saja. Penasaran, Bagas kembali menoleh, tetapi lelaki tua itu lenyap entah ke mana. Dia terheran-heran.
Sisa jalanan Desa menuju rumahnya tak memungkinkan bagi andong untuk masuk. Bagas memutuskan turun berjalan kaki,
Aktivitas para penduduk kampung langsung menyambut Bagas. Banyak warga berlalu-lalang, mengayun sepeda, memikul barang dagangan, serta para anak asyik bermain-main sambil menuntun kerbau. Khas semua desa pada umumnya.
Bagas menyapa seorang pria yang muncul dari salah satu rumah sambil menghisap rokok. Pria asing itu memicingkan mata saat bertatapan dengan Bagas,membuang muka, seolah benci dengan kedatangan pemuda itu.
Ada yang tak biasa, warga desa yang dikenal ramah kini menyambutnya sinis.
Bagas meneruskan perjalanannya hingga tiba dengan selamat di sebuah rumah sederhana namun terawat. Itu adalah tempat kediaman sang ibu, Bu Marni.
Mereka saling melepas kerinduan, Bu Marni pun tampak terkejut akan kehadiran anaknya.
Bagas terperanjat kala melihat foto dirinya dengan almarhum ayah serta sepeda ontel tua kesayangan sang ayah yang masih terawat meski tampak usang.
Hal pertama yang dilakukan bagas ialah berziarah ke makam Ayahnya yang dulunya merupakan seorang guru ngaji tersohor di Desa, sejak di makam, Bagas merasa langkahnya tengah diawasi dan diikuti.
Namun beberapa kali dia memperhatikan sekeliling, Bagas tak mendapati apapun.
Waktu Magrib, tak ada adzan yang berkumandang di desa ini. Bagas mencari masjid tempat masa kecilnya dulu menghabiskan waktu untuk mengaji.
Namun pemandangan sekarang jauh berbeda, Masjid itu seperti tak terurus, penuh debu yang memenuhi udara.
Miris, bagas tetap melaksanakan shalat di masjid tersebut. Bagas merasa diawasi kian dekat, bahkan dia mendengar suara gema lain dari takbirnya.
Dia merasa ada sekelibat bayangan besar yang berdiri tepat di belakangnya.
Sekuat tenaga bagas mempertahankan khusyuk sampai saat mengucap salam, Bagas menelisik sekeliling, namun tak ada apapun.
Bagas buru-buru beranjak, namun saat dia membuat daun pintu masjid yang entah mengapa tertutup, tepat di hadapannya berdiri makhluk hitam--
berbulu lebat, serupa genderuwo dengan mata menyalak. Bagas terpental ke belakang, dia ketakutan, seketika lehernya tercekat .
Semakin makhluk itu mendekat, bagas semakin merasa tercekik.
Bagas membaca ayat-ayat doa, dia memegang lehernya sendiri. Namun beberapa saat, makhluk itu lenyap dari hadapannya,
Bagas meyakinkan diri bahwa dirinya hanya berhalusinasi
Bagas mencoba menghidupkan masjid, dia mengumandangkan adzan, bershalawat, dan mencoba berdakwah di desa, agar masyarakatnya kembali lebih dekat dengan agama.
Namun tindakan bagas ini menimbulkan kebencian dari berbagai Pihak.
Hingga bagas pada akhirnya di bunuh oleh sekelompok orang yang juga merupakan warga desa.
Mayit Bagas di lempar ke sungai begitu saja.
Tak selang berapa lama, kelompok pembunuh bagas tengah berpesta pora setelah misinya berhasil.
Mereka menduga mayit bagas jikalau pun ditemukan hanya akan dianggap sebagai kecelakaan biasa.
Di antara dentum musik.
Toa Masjid tiba-tiba menggesek suara lalu berdecit dengung seperti ada pergesekan frekuensi suara audio.
"Allahumma Sholli β€˜Alaa Sayyidinaa Muhammad ....
Ya Allah, berikanlah shalawat kepada pemimpin kami, Muhammad.
Wa-asyghilidz Dzolimin Bidz Dzolimin"
Seketika suasana hening, satu dari mereka mengecilkan dentuman musik untuk fokus pada suara kumandang shalawat yang sangat jelas merupakan suara dari orang yang baru saja mereka bunuh,
"Sibukkanlah orang-orang zolim dengan orang zolim lainnya."
Toa masjid berdecit lagi sampai memekik telinga, semua mata tak bisa menunjukan rasa takut dan heran mereka.
"Bagaimana bisa? Bagas sudah mati!"
-------
"JIN KHODAM"
Sebuah film yang mengangkat issue mistik perihal bagaimana Jin Khodam 'ada' dan 'bekerja'
25 Mei 2023, di Bioskop!
youtube.com

Loading suggestions...