"KESASAR DI ALAS JATI"
“suara rintihan itu menandakan jika dia akan menampakkan wujudnya padamu, ingin sejauh apa kamu berlari, kamu akan tetap ada di hutan ini sampai pagi!!”
-a thread-
#threadhorror #bacahorror
“suara rintihan itu menandakan jika dia akan menampakkan wujudnya padamu, ingin sejauh apa kamu berlari, kamu akan tetap ada di hutan ini sampai pagi!!”
-a thread-
#threadhorror #bacahorror
Halo sobat horor semuanya, maaf ya kalau wakhid jarang uploud thread horor akhir-akhir ini. Maaf sekali, bukannya tak menulis lagi, tapi karena ada urusan yang sedikit membuat saya sibuk dan tak sempat uploud thread-
tapi tenang saja, kali ini saya akan memberi cerita yang mungkin teman-teman yang tinggal di daerah yogyakarta tak asing dengan latar tempat yang ada di cerita ini.
Tapi sekali lagi saya ingatkan, bahwa tulisan ini tak bermaksud untuk semena-mena menakuti, tapi yang saya harapkan adalah semoga dari kisah ini pembaca bisa memetik hikmah yang ada dan mengambil pembelajaran darinya.
Nah kali ini saya mau menyampaikan sebuah cerita yang dimana ini adalah kisah dari mas yang sebut saja namanya herman. Mas herman adalah seorang driver ojek online di jogja, beliau sering ngebid-
(istilah yang biasa digunakan para driver untuk mulain mencari pelanggan). Ketika dini hari tiba, yah mereka biasa menyebutnya dengan istilah ngalong.
Biasanya herman berangkat ngalong sekitar jam 10-11 malam, dan rute dia mencari pelanggan adalah sekitaran pogung, seturan dan babarsari. Namun memang sebenarnya malam hari bukanlah waktu yang bagus untuk narik ojek,
yah memang benar, pelanggan itu pastilah tetap ada kapanpun, namun disini yang saya maksud adalah, ketika malam hari tiba, kemungkinan besar kalian juga akan bertemu dan berinteraksi dengan “MEREKA!”
....
....
Malam itu herman berangkat dengan penuh semangat untuk memulai mencari rejeki, ia berangkat dari rumah malam itu sekitar pukul 11 malam. Dia memanglah sering ngebid ketika malam hari ia biasanya kegiatan ini disebut ngalong.
Malam itu herman mulai mengendarai motornya dan berkendara menuju ke arah tugu jogja, dengan harapan di jam seperti itu banyak anak kos ataupun yang lain sedang dalam kelaran atau mungkin membutuhkan jasanya.
Tak berselang lama ketika herman memasuki kawasan babarsari, ternyata ada customer di sekitar bagian jembatan bawah janti. Tanpa berpikir panjang herman langsung mengambil orderan itu dan langsung bersiap menuju lokasi penjemputan itu berada.
Dengan semangat, herman menarik gas motor varionya, tak butuh waktu lama untuk herman sampai ke titik dimana lokasi penjemputan itu berada.
“mbak lia ya” ucap herman, wanita itu menangguk dan langsunglah herman memberikan helm untuknya
“mbak lia ya” ucap herman, wanita itu menangguk dan langsunglah herman memberikan helm untuknya
“ini tujuannya sesuai aplikasi ya mbak? Atau mbak punya jalan alternatif lain?” tanya herman sambil melihat map yang ada di gawainya
“iya mas” jawab wanita itu datar
“iya mas” jawab wanita itu datar
Malam itu jam menunjukkan sekitar pukul setengah 12 malam, jalanan tak terlalu sepi namun entah mengapa mas herman merasa merinding kala itu.
“mbak ini beneran tujuannya ke wonosari?” tanya herman lagi, memastikan bahwa pelanggan ini tidak salah tujuan, karena bisa dibilang jarak dari jembatan janti menuju wonosari cukup lumayan jauh yah kurang lebih bisa ditempuh dengan waktu 45 menitan.
“iya mas benar”
“ini barangnya udah ngak ada yang ketinggalan ya mbak?” tanya herman
“ngak mas” jawabnya
“ini barangnya udah ngak ada yang ketinggalan ya mbak?” tanya herman
“ngak mas” jawabnya
Mendengar sudah tak ada lagi yang tertinggal, herman langsung tancap gas menuju lokasi tujuan dari mbak lia. Ketika herman sudah sampai di daerah perempatan ring road ketandan,
tiba-tiba herman teringat bahwa ketika ia mau menuju ke wonosari, ia juga harus melewati alas X yang sudahsangat terkenal dan sering terjadi hal-hal mistis disana.
Namun karena malam itu ia baru mendatkan customer satu, jadi apa mau dikata, herman harus mengambilnya, yah daripada tidak ada uang untuk membeli kebutuhan esok hari, pikirnya kala itu.
Malam semakin sunyi, apalagi ketika ia sudah memasuki kawasan jalan wonosari, sebagai pelepas rasa kantuk, herman sesekali mengajak ngobrol mbak lia yang nampaknya kala itu ia juga sedang asyik bermain telepon genggamnya.
“mbak lia ini dari mana e kok tumben jam segini baru balik kerumah”
“saya kerja di salah satu toko besar yang ada di daerah janti mas, ini tadi karena ada keperluan mendadak makanya saya jadi pulang jam 11” ucapnya sambil terus menatap telepon genggam
“saya kerja di salah satu toko besar yang ada di daerah janti mas, ini tadi karena ada keperluan mendadak makanya saya jadi pulang jam 11” ucapnya sambil terus menatap telepon genggam
“wah jam segini itu rawan kejahatan loh mbak, mbok besok kalau mau pulang itu mending paginya aja sekalian atau malah mending jangan pulang dulu”
“yah mau gimana lagi mas, saya anak semata wayang jadi selain bekerja juga menjaga orang tua, capek sih mas tapi yah mau gimana”
“yah mau gimana lagi mas, saya anak semata wayang jadi selain bekerja juga menjaga orang tua, capek sih mas tapi yah mau gimana”
Tak terasa mereka sampailah di gerbang pintu masuk ke daerah Gunungkidul, disana entah mengapa tiba-tiba perasaan herman menjadi sedikit gundah, padahal ia sudah sangat sering melewati kawasan ini,
namun entah mengapa malam ini rasanya begitu berbeda dari biasanya, tanpa berpikir panjang, herman langsung tancap gas saja malam itu.
“tolong pegangan agak kenceng ngih mbak, saya mau sedikit ngebut ini, biar nantinya ngak terlalu malam dijalan” ucap herman sambil menarik gas dan seketika itu motornya melaju
“ngih mas” setuju dengan ucapan mas herman, mbak lia langsung berpegangan erat
“ngih mas” setuju dengan ucapan mas herman, mbak lia langsung berpegangan erat
Malam semakin larut, jam tangan mas herman menunjukkan bahwa sudah hampir jam 12 malam dan tanpa ia sadari ia sudah memasuki kawasan dimana alas x itu berada.
“mbak jangan berhenti berdoa ngih”
“ohh ngih mas” ucap lirih mbak lia
“mbak jangan berhenti berdoa ngih”
“ohh ngih mas” ucap lirih mbak lia
Dari ucapan mbak lia tadi, mas herman bisa paham jika mbak lia paham dengan maksud dan tujuan dari ucapannya.
Malam itu jalanan benar-benar sepi, tidak seperti waktu memasuki kilometer awal jalan wonosari tadi. Sebenarnya mas herman malam itu sudah memiliki firasat yang tidak baik,
tapi bagaimanapun ia harus mengantarkan mbak lia sampai ke tujuan, karena itu sudah menjadi tanggung jawabnya ketika ia sudah menyetujui mbak mbak lia sebagai customernya.
Lebatnya kawasan hutan jati dan sesekali terdengar suara lolongan anjing liar menambah kengerian pada malam itu, sampai tiba-tiba mas herman mendengar suara seperti suara rintihan kuda namun semakin lama suara itu menjadi semakin jelas,
itu suara tangisan bukan, itu suara tertawa perempuan! Batin mas herman berkecamuk seketika mendengar suara itu.
“mbak sampean dengar suara tadi itu mboten?”
“iyo mas, arahnya dari sebelah kanan to?” balas mbak lia dengan nada sedikit bergetar karena ketakutan
“iyo mas, arahnya dari sebelah kanan to?” balas mbak lia dengan nada sedikit bergetar karena ketakutan
“udah mbak pegangan kenceng aja, semoga aja dia ngak menampakkan wujudnya, jangan berhenti berdoa ya mbak” ucap herman, dia tubuh yang gemetaran ia memaksakan tangannya untuk tancap gas supaya lekas menjauh dan keluar dari area alas jati itu.
15 menit kemudian akhirnya mereka berhasil keluar dari kawasan itu, kawasannya memanglah sangat luas dan panjang, jadi wajar bila ketika melewati alas itu membutuhkan waktu yang lumayan lama.
“mbak ini jalannya yang mana e?” tanya mas herman, ia kebingungan ketika melihat jalan yang bercabang dan tak ada di map
“ambil jalan yang setapak tanah mas, jangan yang sebelah kiri, itu jalan menuju makam desa sini”
“oh ngih mbak” jawab mas herman mantap
“ambil jalan yang setapak tanah mas, jangan yang sebelah kiri, itu jalan menuju makam desa sini”
“oh ngih mbak” jawab mas herman mantap
Mereka berdua melanjutkan perjalanannya menuju rumah mbak lia, setelah memasuki kawas desa mbak lia, entah mengapa mas herman ketika memasuki kawasan desa mbak la ia langsung segar kembali dan tak merinding lagi.
“mbak ini rumahnya sebelah mana ya, ini mapnya mati soalnya”
“itu mas rumah samping mushola, rumah yang berwarna hijau” ucap mbak lia sambil mengacungkan jarinya
“oh iya mbak, saya udah liat” balas mas herman
“itu mas rumah samping mushola, rumah yang berwarna hijau” ucap mbak lia sambil mengacungkan jarinya
“oh iya mbak, saya udah liat” balas mas herman
Sampailah mereka dirumah mbak lia, kondisi rumah mbak lia memanglah tak begitu jauh berbeda dengan rumah yang ada di kota, yah memang karena rumah mbak lia ini berada pada kawasan perumahan yang belum lama dibangun.
“terimakasih ngih mas” ucap mbak lia sambil menyodorkan selembar uang seratus ribuan
“wah ini kelebihan mbak” ucap herman sambil menatap uang yang diberikan oleh mbak lia
“wah ini kelebihan mbak” ucap herman sambil menatap uang yang diberikan oleh mbak lia
“udah mas ambil aja sisanya, aku malahan yang harus berterimakasih dengan masnya karena udah mau ngaterin di jam segini” balasnya
“alhamdulillah, terimakasih ya mbak, semoga rejekinya semakin dilancarkan”
“alhamdulillah, terimakasih ya mbak, semoga rejekinya semakin dilancarkan”
“aamiin, eh mas yakin berani lewat tempat tadi malam-malam gini? Ini udah jam 12 lebih loh mas, kalau mas ngak berani, tidur dirumahku aja gapapa mas, bapak juga pasti ngebolehin, bapakku kebetulan juga seorang ketua Rt mas”
ucap mbak lia, mbak lia saat itu merasa khawatir dengan mas hendra jika ia harus melewati alas jati itu lagi.
“ wah terimakasih atas tawarane mbak, tapi gapapa kok mbak, aku mau kembali ke jogja aja, istri dan anakku menunggu dirumah e” balas mas herman, seketika itu juga mas herman bergegas kembali ke jogja
Sebenarnya mas herman saat itu takut untuk kembali melewati alas itu, tapi mau bagaimanapun, jalan itu adalah jalan satu-satunya, jadi mau tidak mau harus lewat sana.
Jarak dari jogja menuju rumah mbak lia terbilang tak terlalu jauh, sekitar 45 menitan saja, itu tadi ketika berangkat, tapi kali ini berbeda!
“waduh ini udah masuk alas x lagi” umpat mas herman dalam hati ketika mulai memasuki kawasan hutan jati
Kawasan hutan jati itu sangat minim penerangan, walaupun jalanannya masih terbilang baru tapi entah mengapa untuk sarana penerangan jalan disini masih sangat minim.
Kawasan hutan jati itu sangat minim penerangan, walaupun jalanannya masih terbilang baru tapi entah mengapa untuk sarana penerangan jalan disini masih sangat minim.
“hah jalannya kok beda ya?” ucap mas herman, kala itu ia tiba-tiba menjumpai pertigaan ketika melewati alas jati itu, padahal tadinya ketika berangkat jalan itu sama sekali tak ada pertigaan.
Akhirnya mas herman memutuskan untuk memilih sisi sebelah kiri, dimana disana jalanannya tak jauh berbeda dengan jalan yang tadi ia lewati.
“wis lah ambil jalan ini aja, semoga ngak kesasar” ucapnya dalam hati sambil berbelok kearah kiri mengikuti jalan yang sudah ia pilih
“wis lah ambil jalan ini aja, semoga ngak kesasar” ucapnya dalam hati sambil berbelok kearah kiri mengikuti jalan yang sudah ia pilih
Tak berselang lama setelah mas herman memasuki jalan itu, tiba-tiba suara rintihan itu terdengar kembali.
“astagfirullah” reflek mas herman
“astagfirullah” reflek mas herman
Bulu kuduk mas herman seketika itu juga langsung berdiri, kali ini dia benar-benar ketakutan. Ketika suara itu terdengar, tiba-tiba motor yang sedang dikendarai oleh mas herman terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahan motornya itu.
“wehhh wehh, kenapa motor iki”
“wehhh wehh, kenapa motor iki”
Pada saat itu mas herman sudah memutar gas yang cukup dalam, namun anehnya entah mengapa motornya tak ingin melaju kencang. Namun tak ingin terlalu memerhatikan hal itu, mas herman melanjutkan perjalanannya.
“weh ada pertigaan lagi??” ucap mas herman
“weh ada pertigaan lagi??” ucap mas herman
Saat itu mas herman bertemu dengan pertigaan lagi, namun bedanya kali ini salah satu jalannya adalah jalan tanah yang nampaknya ini bukanlah jalur yang biasa dilewati oleh kendaraan.
Tanpa berpikir panjang, mas herman langsung memilih jalan aspal dan meneruskan perjalanannya untuk kembali ke jogja.
“hi...hi...hi...” suara rintihan lirih terdengar kembali dari alas jati sekitar
“astagfirullah” mas herman dengan ketakutan langsung tancap gas motornya
“astagfirullah” mas herman dengan ketakutan langsung tancap gas motornya
Perjalanan mas herman berlanjut, semakin lama entah kenapa mas herman merasa semakin aneh dengan kondisi sekitarnya, yang tadinya tak ada pertigaan ketika memasuki kawan alas ini dan secara tiba-tiba ada pertigaan kan merupakan hal yang sangat aneh, pikir mas herman saat itu.
Ditengah lamunan, lagi-lagi ia bertemu dengan pertigaan dan yang membuat mas herman terkejut, ini adalah pertigaan yang sama yang tadi suah ia lewati. Merasa ada yang tak beres,
mas herman hendak menghubungi rekannya sesama ojek online namun betapa kagetnya mas herman ketika melihat gawainya, ternyata tak ada sinyal sama sekali.
Jam tangan mas herman sudah menunjukkan pukul 1.50 pagi, yang dimana ini sudah sangat tidak wajar, dimana kala itu mas herman berada di alas itu hampir 2 jam. Merasa ini sudah tidak beres,
mas herman memelankan kendaraannya dan membuka kaca helmnya, dengan harapan semoga saja ia akan bertemu seseorang yang bisa membantunya.
Berjalan.. terus berjalan mas herman menembus gelapnya malam ditengah alas x itu dengan kondisi ketakutan dan tentu saja, ia sendirian.
Tibalah mas herman di area pesawahan, anehnya ini adalah perbukitan kapur dan tadipun waktu berangkat mas herman sama sekali tak melihat ada sawah di area hutan jati ini,
namun entah mengapa ia tiba-tiba berada di area sawah yang tak jauh dari sana ada jembatan kecil dan disana ada siluet sesorang yang sedang duduk diatas jembatan itu.
Mas herman dengan semangat menuju jembatan, dan benar saja, disana ada bapak-bapak sedang duduk diatas jembatan. Dengan segera, mas herman mematikan mesinnya dan melepas helm yang sedang ia pakai,
“nyuwun sewu pak, permisi bade tanglet” (permisi pak mau tanya)
“ohh ngih, gimana nang” balas bapak itu menyambut pertanyaan dari mas herman
“ngapunten pak, maaf, mau tanya kalau jalan menuju ke kota jogja itu sebelah mana ngih?”
“ohh ngih, gimana nang” balas bapak itu menyambut pertanyaan dari mas herman
“ngapunten pak, maaf, mau tanya kalau jalan menuju ke kota jogja itu sebelah mana ngih?”
Herman kala itu bertemu dengan bapak-bapak yang umurnya sekitar sudah kepala lima, bapak itu memakai baju berkerah dengan kancing yang tak dikaitkan yang membuat dada bapak itu terlihat mesti hanya sedikit karena gelapnya malam,
bapak itu juga menggunakan celana hitam siatas mata kaki yang kala itu tampak sedang sedikit basah.
Bapak ini memakai caping layaknya orang dari sawah, namun anehnya ketika herman bercakap dengan bapak ini,
hanya menunduk dan juga beliau sama sekali tak melepas caping yang kala itu sedang melekat di kepalanya, sehingga herman sama sekali tak bisa melihat wajah dari sosok bapak itu.
“ealah nang, kamu itu loh juga aneh, ngapain jam segini malah keluyuran, jam segini itu saatnya istirahat” balas bapak itu
“enggeh pak, iya tadi saya nganter pelanggan ke daerah wonosari, tadi dia naik dari janti” balas mas herman
“enggeh pak, iya tadi saya nganter pelanggan ke daerah wonosari, tadi dia naik dari janti” balas mas herman
“ngene nang, rejeki kui wis ono sing ngatur, ngoyo lehmu kerjo kui rapopo ning yo awakmu kudu ngerti titi mongso kanggo wayahe awakmu ngoyo. Rejeki kui arep sak kesel e opo awakmu nguyak, nek durung dadi jatahmu orabakal kecekel, ugo suwalike.-
Wis nang sakiki awakmu lurus wae nurut dalan tengah sawah iki, ora usah ngematke mburi nganti mengko awakmu ketemu dalan gede”
(gini nak, rejeki itu sudah ada yang mengatur, kamu bekerja keras itu tidak salah tapi kamu juga harus tau waktu yang tepat dimana kamu harus bekerja keras. Rejeki itu mau kamu kejar bagaimanapun caranya,-
jika itu bukan rejekimu, itu tak akan pernah kamu gapai, begitupun sebaliknya. Sudah sekarang kamu mengikuti jalan tengah sawah ini saja, tidak usah melihat kebelakang sampai kamu nanti bertemu jalan raya” ucap bapak itu
"ngih, siap pak, berarti ini jalan terus aja ya pak?” tanya herman, namun tanpa bepatah katapun, bapak itu hanya mengangguk.
“alhamdulillah, matur nuwun ngih pak, terimakasih banyak” ucap herman menutup pembicaraan, beliau berpamitan dan memakai helm serta berniat melanjutkan perjalanannya
“monggo pak, kulo rumiyin” ucap mas herman sembari menaiki motornya dan perlahan ia menjauh dari sosok bapak itu
“monggo pak, kulo rumiyin” ucap mas herman sembari menaiki motornya dan perlahan ia menjauh dari sosok bapak itu
Sesuai arahan dari bapak yang ia temui tadi, mas herman melewati jalan pematang sawah yang jika dipikir seharusnya tak masuk akal mengapa dia tiba-tiba bisa sampai kesini.
Ditengah perjalanan, mas herman lupa dengan larangan yang tadi diucapkan oleh sosok bapak yang memakai pakaian serba hitam itu.
Mas herman kala itu tak sengaja menengok kebelakang dan betapa kagetnya mas herman ketika yang ia lihat saat itu ternyata bukanlah jalan, tetapi HUTAN JATI!!
Dan disana pula terlihat sosok perempuan dengan pakaian putih lusuh tengah berdiri dibawah pohon jati sambil tersenyum menyeringai kearah mas herman, melihat hal itu tiba-tiba pandangan mas herman menjadi gelap dan ipun tak sadarkan diri.
Keesokan paginya, ada seorang bapak yang kala itu tengah membawa keranjang berisi sayuran yang ingin ia jual ke kota, sebut saja namanya pakde kemijo.
Saat itu secara tak sengaja pakde kemijo melihat ada lelaki yang terkapar tak sadarkan diri dipinggir jalan dan motor yang dalam keadaan menyala.
Melihat ada orang yang membutuhkan bantuan, pakde kemijo lantas mendekati dan menyadarkan lelaki itu, beliau memberikan sebotol air dan lelaki itu meminumnya dan langsung habis.
Melihat lelaki itu sudah bisa diajak untuk berkomunikasi, beliau lantas bertanya tentang siapa dia dan darimana kok bisa-bisanya dia tertidur dipinggir jalan dan ditengah hutan jati pula.
“maaf mas, masnya ini darimana atau mau kemana e?” tanya pakde kemijo pada lelaki itu
“saya mau pulang pak” ucap lelaki itu
“lah masnya mau pulang kemana, sebelumnya maaf, masnya namanya siapa ya?”
“saya mau pulang pak” ucap lelaki itu
“lah masnya mau pulang kemana, sebelumnya maaf, masnya namanya siapa ya?”
“saya herman pak, saya semalam nganter pelanggan ke daerah wonosari, tapi pas pulang kok saya kayaknya cuma muter-muter di area ini, dan pas sebelum saya pingsan,
saya ada di sebuah jalan ditengah sawah, nah anehnya kan disini ngak ada sawah ya pak?” jelas singkat pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah herman.
“wah kamu disasarin itu mas, kamu ketemu sama sosok bapak berbaju serba hitam ngak?” tanya balik bapak itu
“ngihh pak bener, bener banget aku ketemu sosok bapak bepakaian serba hitam dan memakai caping” balasnya
“ngihh pak bener, bener banget aku ketemu sosok bapak bepakaian serba hitam dan memakai caping” balasnya
“alhamdulillah, berarti sampean masih belum jauh mas kesasar e, itu sampean udah ngak di dimensi dimana kita sekarang berada, itu mas sudah di alam demit” jelas singkat pakdhe kemijo
“alhamdulillah, pak”
“alhamdulillah, pak”
“yasudah mendingan sampean sekarang pulang mas, pasti keluargane sampean binggung mencari” balas pakde kemijo sambil menaiki motornya
“oh ngih pak terimakasih”
“oh ngih pak terimakasih”
Akhirnya herman pagi itu pulang dengan selamat menuju rumahnya, kejadian kala itu menjadi sebuah pembelajaran untuk dirinya sendiri, dan mulai saat itu herman tak lagi ngojek dini hari dan memilih untuk narik ojek dari pagi sampai sore saja.
mungkin itu saja yang bisa saya tuliskan, ambilah sisi positif dari cerita barusan ya..
sampai jumpa di thread horor berikutnya..
sampai jumpa di thread horor berikutnya..
eh ngomong-ngomong wakhid jualan wayang asli dari Jogja loh, bisa request semua jenis wayang.
silahkan di pesan, harga terjangkau kok 🤗
silahkan di pesan, harga terjangkau kok 🤗
Loading suggestions...