ꅐꋬꋊ꒯ꋬ
ꅐꋬꋊ꒯ꋬ

@neverminess

25 Tweets 7 reads May 02, 2023
[ Sinopsis ]
Cerita kelam masa lalu, di balik kematian seorang gadis muda yang di jadikan tumbal pesugihan oleh ayah kandungnya sendiri.
Shepia tidak sengaja melihat kecelakaan yang menimpa tetangga sekampungnya.
Siapa sangka kematian mbak Santi yang tragis merupakan awal-
mula teror dari hantu mbak Santi di kampung mereka.
Teror demi teror yang menghantui Shepia dan warga kampungnya mengawali petualangan panjang mereka untuk mengungkap misteri kematian mbak Santi yang penuh dengan kisah mistis.
6 Gadis remaja terjebak dalam sebuah kisah misteri yang di rencanakan oleh ayah Santi.
Akankah shepia dan teman-temannya dapat menguak tabir misteri kematian mbak Santi, apakah meraka dapat selamat dari perjalanan panjang mereka.
Dan mampukah Shepia mengungkap jati dirinya yang sebenarnya menuju takdir yang telah memilihnya...
Part 1
Hujan !
Aku berteduh menghindari serbuan air hujan, di sebuah ruko pertokoan pinggir jalan, bersama sofi tetangga samping rumah sekaligus teman sedari masih kanak kanak sampai remaja saat ini.
Hujan semakin deras, seragam berwarna biru yang kami kenakan setiap kali bekerja di sebuah mini market, telah basah oleh air hujan.
"Kok iso se Shep, ora ngowo mantel iku" (kok bisa tidak bawa mantel) kata Sofi, dengan badan mulai menggigil karena kedinginan.
"Wes nunut nyocot" (Sudah numpang banyak bicara) Jawabku kesal, mataku tertuju pada air hujan yang mengalir ke selokan.
Lalu lalang kendaraan di tengah guyuran hujan, menjadi hiburan tersendiri bagiku.
Tidak ada tanda hujan akan berhenti, dalam waktu dekat ini karena mendung semakin pekat.
Motor matic melaju kencang di tengah kepadatan kendaraan lain, si pengendara nampak mendoyongkan badan sedikit ke depan menghindari derasnya hujan, tanpa mengunakan mantel pengendara itu-
melesat cepat seperti pembalap liar.
Aku dan Sofi yang melihatnya merasa takjub, bercampur ngeri. Bagaimana tidak ! Orang itu melajukan skuter maticnya dengan kecepatan tinggi, menyalip zig zag kendaraan di depannya.
BRAKK..
Aku dan Sofi terkejut, pandangan nanar kami tertuju pada orang yang mengendarai skuter matic kencang tadi. Darah yang keluar dari tubuh orang itu mengalir terbawa air hujan sebelum ia terpental ke atas, karena menabrak gundukan tanah bekas galian proyek di pinggir jalan.
Ku bungkam mulut Sofi dengan tangan kananku. Sebelum Sofi berteriak lantang karena histeris.
Cepat cepat kunaiki motor, lalu menarik tangan Sofi untuk segera ikut menaiki motor, kuputuskan secara sepihak dengan memilih pulang dengan badan basah kuyup oleh air hujan.
Ku paksakan pandangan untuk tidak melihat ke arah kerumunan orang, yang mulai berlarian datang menolong.
Deg..
Jantungku serasa berhenti berdetak, begitu juga dengan Sofi ia nampak terkejut setelah mata kami. Tertuju pada Plat no kendaraan, yang terguling akibat kecelakaan tadi.
Sedangkan jaket hijau, beserta helm di kenakan serasa tak asing bagiku.
Tubuhnya terkapar di bawah roda depan truck, sesekali badanya berkejut dengan darah yang terus mengalir bercampur air hujan.
Ya Allah ...
Pekikku lirih, aku tak berani menatap lama ke arahnya, meski sedari tadi kupaksakan untuk tidak melihat ke arah di mana tubuh terkapar tak berdaya itu, rasa penasaranku lebih besar, lalu berubah menjadi rasa bersalah.
Meskipun jika aku berhenti, aku tidak akan bisa melakukan apapun. Sebabketakutan tersendiri dariku akandarah dan kematian.
Bahkan sejak kecil, jika ada tetangga atau aku tak sengajamelihat rombongan orang mengangkat keranda mayat, aku akan berlari pulang sambil menangis histeris.
Kukebut motor memasuki jalan menuju rumah kami bayangan seseorang yang sangat kukenal di bawah truk tadi masih melintas di pikiranku.
Suara Sofi, dengan berbagai pertanyaan yang ia ajukan padaku, tak kuhiraukan karena malas untuk menjawabnya, bahkan Sofi sampai memukul punggungku
keras karena aku terus fokus pada jalan yang kami lewati.
Memasuki gang kecil ke rumah kami, aku masih terus melajukan motor dengan kencang. Meski rumah kami sudah terlewati sejak tadi,
lalu kuhentikan motor di depan rumah Pak Anam dan Bu Anam, Sofi nampak heran, namun ia mengerti maksudku.
Part 2
Gerimis masih belum reda hingga malam hari.
Aku meringkuk di pelukan ibu, tangisku tumpah di dadanya. Ayah mulai panik dengan keadaanku saat itu, tanpa berfikir panjang ayah membopongku menuju kamarnya di ikuti ibu yang berjalan di belakang kami.
Tangisku belum berhenti, dadaku terasa sesak, masih terbayang di ingatanku sosok Mbak Santi yang menampakkan diri padaku, meski aku tidur di tengah kedua orang tuaku. Rasa ketakutanku belum sepenuhnya hilang.
Tok... Tok... Tok...
"Gak tuku jajan a." (Tidak beli jajan?)
Suara itu, aku mengenalinya, itu suara mbak Santi.
Mbak Santi berjualan kue jajanan pasar saat pagi dan sore hari di depan gapura gang masuk rumah kami.
Tok.. Tok... Tok...
"Gak tuku jajan ta?" (Tidak beli kue?)
Berulang ulang ia ketuk pintu rumahku di malam hari, kami yang mendengarnya merasakan ketakutan oleh teror Mbak Santi.
Bukan hanya aku, ibu tampak terkejut ketika mendengar suara ketukan pelan di pintu rumah kami.
Sreeekk... Sreekkkk.. Sreekk..
Suara langkah di seret di dalam rumah kami, ia berjalan menyusuri ruang depan lalu melewati ruang tengah dan berhenti di depan pintu kamar di mana saat ini kami berada.
Tok.. Tok.. Tok..
"Lek, aku nawakno jajan ora ser tuku ta?"(Bibi aku menjajakan kue tidak berminat beli kah?)

Loading suggestions...